Detail Berita

Baca Berita Miftahussalam Banyumas

Informasi lengkap seputar kegiatan dan prestasi Miftahussalam Banyumas

Wujudkan Karakter Santri Mandiri: MA PPPI Miftahussalam Banyumas Gelar Praktik Kokurikuler Pertanian hingga Pengelolaan Sampah

8 September 2026 Administrator

BANYUMAS — Madrasah Aliyah (MA) PPPI Miftahussalam Banyumas terus membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul secara akademik dan berakhlak mulia, tetapi juga memiliki keterampilan hidup (life skills) yang mumpuni. Komitmen ini diwujudkan secara nyata melalui program kegiatan kokurikuler aplikatif yang melibatkan partisipasi aktif seluruh santri dari kelas 10 hingga kelas 12.


Kegiatan kokurikuler di MA PPPI Miftahussalam menjadi agenda wajib yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat pada jam pelajaran pertama hingga ketiga. Suasana pagi yang segar setelah para santri mengikuti pembiasaan senam pagi bersama, dimanfaatkan untuk langsung terjun ke lapangan.

Pihak madrasah menjelaskan bahwa program kokurikuler ini bukanlah sekadar rutinitas pengisi waktu luang. Kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran strategis guna menguatkan, mendalami, dan memperkaya materi intrakurikuler. Tujuan utamanya sangat jelas: mengembangkan kompetensi santri dengan titik berat pada pembentukan karakter tangguh, seperti kemandirian, kedisiplinan, kerja sama tim, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Untuk memastikan output pembelajaran yang terarah dan maksimal, madrasah membagi fokus kegiatan kokurikuler secara spesifik berdasarkan tingkatan kelas:

  1. Kelas 10: Difokuskan pada budidaya tanaman hortikultura.
  2. Kelas 11: Diarahkan pada keterampilan budidaya perikanan.
  3. Kelas 12: Diberi tanggung jawab pada manajemen dan pengelolaan sampah organik serta anorganik.

Pada Jumat, 7 Agustus 2026, suasana area praktik madrasah tampak hidup. Para santri dengan antusias memulai praktik langsung sesuai dengan pembagian tugas dan lahan masing-masing kelas.

Kelas 10: Belajar Sabar dan Telaten Melalui Hortikultura Bagi santri kelas 10, hari itu adalah momen untuk berinteraksi langsung dengan tanah. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk melakukan persiapan lahan. Ada yang bertugas mencangkul dan menggemburkan tanah, menyiapkan media tanam di dalam polybag, hingga meracik pupuk dasar. Tangan-tangan muda ini tak ragu kotor demi belajar agribisnis dasar.

Setelah media tanam siap, para santri dengan telaten melakukan penyemaian dan penanaman bibit tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis dan cepat panen, seperti kangkung, caisim, tomat, dan cabai rawit. Edukasi tak berhenti pada penanaman. Para santri juga diajarkan ilmu tata letak atau layouting tanaman, mengatur posisi tanaman berdasarkan kebutuhan intensitas cahaya matahari. Setiap kelompok kemudian diwajibkan menyusun jadwal piket harian untuk penyiraman, pembersihan gulma, serta pemantauan tumbuh kembang tanaman guna mendeteksi hama sejak dini.

Kelas 11: Mengasah Ketelitian Lewat Budidaya Ikan Lele Di area kolam, santri kelas 11 tak kalah sibuk dengan proyek budidaya perikanan lele mereka. Praktik perdana ini tidak langsung dimulai dengan melempar ikan ke air, melainkan diawali dengan edukasi penyiapan habitat yang ideal. Para santri bergotong-royong membersihkan dan menyikat dinding-dinding kolam terpal guna mensterilkan area dari bibit penyakit dan jamur. Air yang dimasukkan pun harus diendapkan terlebih dahulu agar tingkat keasaman (pH) dan suhunya stabil.

Langkah krusial berikutnya adalah penyortiran dan pengukuran bibit lele. Santri diajarkan cara mengukur panjang dan berat rata-rata benih. Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan ikan yang seragam serta meminimalisir risiko kanibalisme yang sering terjadi pada ikan lele. Setelah semua proses ilmiah tersebut dilalui, tibalah momen yang paling ditunggu: proses aklimatisasi dan penyebaran bibit lele ke dalam kolam pembesaran. Suasana riuh dan penuh semangat mengiringi cipratan air saat ribuan bibit lele mulai berenang di kolam madrasah.

Kelas 12: Menjadi Agen Perubahan Ekologi Pesantren Berbeda dengan adik-adik kelasnya yang memproduksi bahan pangan, santri kelas 12 mengambil peran strategis sebagai agen pelestari lingkungan melalui praktik pengelolaan sampah. Menyadari tingginya volume limbah domestik di lingkungan sekolah dan asrama pesantren, kelas 12 mempraktikkan dua solusi ekologis nyata.

Pertama, pembuatan lubang resapan biopori. Berbekal alat bor tanah manual, para santri membuat lubang-lubang resapan di titik-titik rawan genangan air di sekitar madrasah. Lubang ini tidak hanya berfungsi mencegah banjir saat musim hujan, tetapi juga mengunci ketersediaan air tanah.

Kedua, inovasi pembuatan pupuk kompos. Para santri secara proaktif mengumpulkan sampah organik, mulai dari daun-daun kering yang berguguran di halaman sekolah hingga sisa-sisa sayuran dan makanan dari dapur pesantren. Sampah-sampah tersebut kemudian dicacah, dicampur dengan cairan bioaktivator, dan disimpan dalam komposter. Nantinya, pupuk kompos padat dan cair yang dihasilkan dari kelas 12 ini akan disuplai untuk menyuburkan tanaman hortikultura milik kelas 10, menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sirkular (daur ulang) yang mandiri di dalam madrasah.

Melalui serangkaian kegiatan kokurikuler yang terstruktur, komprehensif, dan saling berkesinambungan ini, MA PPPI Miftahussalam Banyumas berharap para santri tak hanya cerdas secara teori. Lebih dari itu, mereka mampu menyerap ilmu aplikatif yang kelak akan menjadi bekal wirausaha, kemandirian finansial, serta modal sosial saat mereka lulus dan kembali mengabdi di tengah-tengah masyarakat.


Bagikan:

0 Komentar

Bergabunglah dalam diskusi

Tinggalkan Komentar